Senin, 09 Januari 2012

as you wish - alesana

Life is meaningless without you
Love can be such a beautiful torture
My heart breaks as I long for you
Love can be such lovely torture

I will climb the hills,
draw my sword and take down
Anyone who tries to stand in front of me
Please know I'll never run away
without you in my arms
One day lovers will dream of this undying kiss
Not of Romeo or Juliet
Stories told of our love will never die

I've slain the most unholy things, endured such terrific pain
Finally I'll feel your caress again
I've braved the cold and lonely seas,
I have prevailed against the odds
Then again...

I will climb the hills,
draw my sword and take down
Anyone who tries to stand in front of me
Please know I'll never run away
without you in my arms
One day lovers will dream of this undying kiss
Not of Romeo or Juliet
Stories told our love will never die

Will you forgive what I've done to give you four white horses?

One day lovers will dream of this undying kiss
Not of Romeo or Juliet
Stories told our love will never die

Senin, 19 Desember 2011

ketika cinta harus mengalah pada keadaan

Kisahnya begitu masyhur, karena Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang menuturkannya. Sampai kemudian Imam Bukhari dan Imam Muslim mencatatnya dalam kedua kitab shahih mereka dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Demikianlah, saat itu adalah masa pemerintahan seorang raja yang sekaligus rasul, khalifatullah Daud ‘alaihissalam.


“Ada dua orang wanita masing-masing dengan anaknya. Datanglah seekor serigala dan mencuri anak salah seorang dari keduanya. Maka salah seorang dari keduanya berkata kepada yang lain, ‘Serigala itu mencuri anakmu.’ Yang lain menjawab, ‘Anakmulah yang dicuri oleh serigala.’ Keduanya pun mengadukan hal itu kepada Dawud, maka Dawud memutuskan anak itu milik wanita yang lebih tua. Keduanya pergi kepada Sulaiman dan menyampaikan hal itu. Sulaiman berkata, ‘Ambillah untukku pisau. Aku akan membelahnya untuk mereka berdua.’ Wanita muda berkata, ‘Jangan, semoga Allah merahmatimu. Anak ini adalah anaknya (si wanita tua).’ Maka kemudian Sulaiman memutuskan anak ini adalah anak si wanita muda”.[1]
_________________________________________________________________________________
Mencintai lebih dari sekedar ingin memiliki. Karena alasan ini, sang wanita muda siap melepas cintanya. Siap dan rela untuk mencintai tanpa memiliki. Keputusan pahit ini harus diambil agar anaknya itu tetap hidup. Tidak ada pilihan lain. Resikonya pun jelas, sang wanita muda tidak akan lagi bisa merawat, menjaga, dan mendidik bayi tercintanya. Dan begitulah, saat mencintai tanpa memiliki, makna utuh cinta tidak akan pernah dapat termanifestasi.
Entah apa yang ada di hatinya ketika itu, saat dikatakannya “Anak ini adalah anaknya.” Dia pun tahu persis wanita tua itu sama sekali tidak berhak mengakui anaknya. Andai si wanita tua menghadirkan seribu alasan untuk menguatkan pengakuannya, sampai kiamat pun bayi ini adalah tetap darah daging yang pernah dilahirkannya.  Sampai kapanpun bukan anak si wanita tua itu. Tapi sudahlah, untuk yang satu ini dia memang harus mengalah. Tidak begitu penting lagi dengan siapa anaknya tinggal nanti, asalkan buah hatinya tetap masih hidup, itu jauh lebih penting. Tidak ada pilihan lain. Dan beginilah cerita cinta, justru disinilah akhirnya kebenaran terkuak. Ibu mana yang merelakan anaknya dibelah dan dibunuh di depan matanya? Atas hujjah inilah, akhirnya Sulaiman ‘alaihissalam memutuskan bahwa wanita muda ini adalah ibu yang sebenarnya bagi bayi mungil itu.
Mengalah, tanda cinta sang ibu untuk bayinya. Manis buahnya, sang anak pun kembali ke dekapannya.